
Jakarta - Pemilihan material dalam pembangunan jalan tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Dua material yang paling sering digunakan adalah aspal dan beton. Meski sama-sama menjadi bahan utama konstruksi jalan, keduanya memiliki karakteristik, kelebihan, serta kekurangan masing-masing.
Aspal terdiri dari bitumen, yaitu bahan pengikat yang berasal dari minyak bumi, serta agregat berupa campuran batuan seperti kerikil dan pasir. Aspal dapat diaplikasikan dalam bentuk hotmix maupun coldmix, tergantung kebutuhan di lapangan.
Sementara itu, beton disusun dari campuran semen, air, agregat (kerikil dan pasir), serta udara. Kombinasi tersebut menjadikan beton lebih padat dan keras dibandingkan aspal.
Secara teknis, aspal memiliki sifat lebih fleksibel. Hal ini membuatnya cocok untuk menahan beban lalu lintas ringan hingga sedang. Fleksibilitas aspal juga memungkinkan perbaikan yang lebih mudah apabila terjadi kerusakan.
Berbeda dengan aspal, beton dikenal lebih kuat dan tahan lama. Beton lebih mampu menahan beban berat, serta tahan terhadap cuaca ekstrem maupun perubahan suhu. Karena itulah, beton banyak digunakan untuk jalan tol, jalan raya utama, hingga area dengan lalu lintas kendaraan besar.
Umur teknis sebuah jalan juga menjadi pertimbangan utama. Jalan beraspal umumnya memiliki usia pakai antara 15 hingga 20 tahun, tergantung intensitas lalu lintas dan kualitas perawatannya.
Sedangkan jalan beton memiliki usia pakai yang lebih panjang, yakni 20 hingga 40 tahun jika dikelola dengan perawatan yang tepat. Hal ini membuat beton lebih ekonomis dalam jangka panjang meski biaya awalnya lebih tinggi.
Dari sisi biaya, pembangunan jalan beraspal relatif lebih hemat biaya pada tahap awal dibanding beton. Namun, dalam jangka panjang, biaya perawatan jalan aspal dapat lebih tinggi karena sifatnya yang mudah rusak jika tidak dirawat rutin. Perawatan jalan aspal cenderung lebih sederhana. Jika terjadi kerusakan, biasanya cukup dilakukan tambal sulam atau penggantian sebagian lapisan. Hal ini membuat pemeliharaan jalan aspal bisa dilakukan lebih cepat tanpa mengganggu arus lalu lintas secara signifikan.
Sebaliknya, pembangunan jalan beton membutuhkan investasi awal yang lebih besar. Meski demikian, biaya perawatannya lebih rendah karena ketahanan material yang tinggi. Hal ini menjadikan beton lebih efisien dari segi biaya jangka panjang. Perawatan jalan beton juga terbilang lebih kompleks. Jika terjadi retakan atau kerusakan besar, perbaikannya memerlukan waktu lebih lama dan biaya lebih tinggi.
Dalam pengaplikasiannya aspal cenderung cocok digunakan pada jalan perkotaan, jalan lingkungan, dan area parkir yang memiliki lalu lintas ringan hingga sedang. Selain itu, pengerjaan aspal juga lebih cepat, terutama untuk jenis coldmix yang praktis dalam kondisi darurat.
Sedangkan beton lebih sesuai digunakan pada jalan tol, jalan raya, serta area dengan beban lalu lintas berat. Dengan kekuatan dan usia pakai yang lebih panjang, beton mampu memberikan solusi infrastruktur yang lebih tahan lama.
Pemilihan material aspal atau beton selalu mempertimbangkan faktor teknis, kondisi lalu lintas, serta aspek efisiensi biaya. Tidak ada material yang benar-benar lebih baik dari yang lain. Semua kembali pada kebutuhan di lapangan, untuk jalan dengan lalu lintas padat dan kendaraan berat, beton lebih ideal. Namun, untuk jalan perkotaan dengan mobilitas ringan hingga sedang, aspal masih menjadi pilihan utama karena lebih fleksibel.
Oleh sebab itu, pada proses konstruksi pengambilan keputusan implementasi untuk aspal atau beton sepenuhnya dilakukan dengan pertimbangan dan perhitungan yang matang dan mendalam, sebagai upaya untuk memastikan daya tahan, kenyamanan, dan keamanan pengguna jalan.